KoasKitMasukCoba gratis 7 hari

Likelihood Ratios (LR+ / LR−)

Likelihood Ratio (LR) menunjukkan berapa kali lebih mungkin suatu hasil tes muncul pada pasien dengan penyakit dibandingkan pasien tanpa penyakit, dan dihitung dari Sensitivity dan Specificity tes. LR di atas 1 mendukung adanya penyakit, LR di bawah 1 mendukung tidak adanya penyakit, dan LR+ (Positive Likelihood Ratio) di atas 10 atau LR− (Negative Likelihood Ratio) di bawah 0,1 memberi bukti kuat untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis.

Bandingkan hasil tes dengan diagnosis pasti.

Tabel 2×2

Isi jumlah pasien di setiap sel.

Sakit
Tidak sakit
Total
Tes positif
Tes negatif
Total

Kriteria penilaian

Nilai LRPergeseran kemungkinan penyakit
LR+ di atas 10 atau LR− di bawah 0,1Besar, sering kali menentukan
LR+ 5 sampai 10 atau LR− 0,1 sampai 0,2Sedang
LR+ 2 sampai 5 atau LR− 0,2 sampai 0,5Kecil, kadang penting
LR+ 1 sampai 2 atau LR− 0,5 sampai 1Kecil, jarang penting
LR sama dengan 1Tidak ada perubahan

Rumus

LR+ = Sensitivity / (1 − Specificity) dan LR− = (1 − Sensitivity) / Specificity

Masukkan Sensitivity dan Specificity sebagai proporsi 0 sampai 1, misalnya 0,9 untuk 90 persen. LR+ tidak terdefinisi bila Specificity 1, dan LR− tidak terdefinisi bila Specificity 0.

Keterangan

  • LR (Likelihood Ratio): berapa kali lebih mungkin suatu hasil tes muncul pada pasien dengan penyakit dibandingkan pasien tanpa penyakit. Nilainya 0 atau lebih, dan nilai 1 berarti tidak ada perubahan kemungkinan penyakit.
  • LR+ (Positive Likelihood Ratio): LR untuk hasil tes positif, yaitu Sensitivity / (1 − Specificity). Nilainya 0 atau lebih, dan semakin besar semakin kuat mendukung adanya penyakit.
  • LR− (Negative Likelihood Ratio): LR untuk hasil tes negatif, yaitu (1 − Sensitivity) / Specificity. Nilainya 0 atau lebih, dan semakin kecil semakin kuat menyingkirkan penyakit.
  • a, True Positive (TP): jumlah pasien sakit dengan tes positif. Nilainya dalam satuan jumlah pasien, yaitu 0 atau lebih.
  • b, False Positive (FP): jumlah pasien tidak sakit dengan tes positif. Nilainya dalam satuan jumlah pasien, yaitu 0 atau lebih.
  • c, False Negative (FN): jumlah pasien sakit dengan tes negatif. Nilainya dalam satuan jumlah pasien, yaitu 0 atau lebih.
  • d, True Negative (TN): jumlah pasien tidak sakit dengan tes negatif. Nilainya dalam satuan jumlah pasien, yaitu 0 atau lebih.
  • Sensitivity: proporsi pasien sakit yang tesnya positif, yaitu a / (a + c). Nilainya berkisar dari 0 sampai 1 (0% sampai 100%).
  • Specificity: proporsi pasien tidak sakit yang tesnya negatif, yaitu d / (b + d). Nilainya berkisar dari 0 sampai 1 (0% sampai 100%).
  • PPV (Positive Predictive Value): proporsi hasil positif yang benar-benar sakit, yaitu a / (a + b). Nilainya berkisar dari 0 sampai 100 persen, dan berubah menurut prevalensi.
  • NPV (Negative Predictive Value): proporsi hasil negatif yang benar-benar tidak sakit, yaitu d / (c + d). Nilainya berkisar dari 0 sampai 100 persen, dan berubah menurut prevalensi.
  • Accuracy (akurasi keseluruhan): proporsi semua hasil tes yang benar, yaitu (a + d) / (a + b + c + d). Nilainya berkisar dari 0 sampai 100 persen.
  • Prevalence (prevalensi): proporsi populasi yang diperiksa yang menderita penyakit. Nilainya berkisar dari 0 sampai 100 persen.

LR sama dengan 1 berarti tidak ada perubahan kemungkinan penyakit. LR+ di atas 10 atau LR− di bawah 0,1 memberi bukti kuat untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis (Deeks dan Altman 2004). Menurut pembagian Jaeschke dkk. (1994), LR+ di atas 10 atau LR− di bawah 0,1 menggeser kemungkinan penyakit dengan besar dan sering kali menentukan, LR+ 5 sampai 10 atau LR− 0,1 sampai 0,2 dengan sedang, LR+ 2 sampai 5 atau LR− 0,2 sampai 0,5 dengan kecil tetapi kadang penting, dan LR+ 1 sampai 2 atau LR− 0,5 sampai 1 dengan kecil dan jarang penting.

Contoh perhitungan

Sebagai contoh, riwayat merokok 40 bungkus-tahun atau lebih memiliki sensitivitas 0,284 dan spesifisitas 0,986 untuk penyakit saluran napas obstruktif. LR+ sebesar 20,3 dan LR− sebesar 0,73, sehingga hasil positif memberi bukti kuat adanya penyakit, sedangkan hasil negatif hanya sedikit menurunkan kemungkinannya.

Sumber

Deeks JJ, Altman DG. “Diagnostic tests 4: likelihood ratios.” BMJ. 2004;329(7458):168-169. DOI 10.1136/bmj.329.7458.168, PMID 15258077, PMCID PMC478236. Catatan ini memuat rumus LR+ = sensitivitas / (1 − spesifisitas) dan LR− = (1 − sensitivitas) / spesifisitas, serta batas LR di atas 10 atau di bawah 0,1 sebagai bukti kuat untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis. Catatan ini tidak memuat pembagian lima tingkat yang lebih rinci. Pembagian itu berasal dari Jaeschke R, Guyatt GH, Sackett DL. JAMA. 1994;271(9):703-707, DOI 10.1001/jama.271.9.703, PMID 8309035 (berbayar; pita nilainya dicocokkan dengan kutipan langsung dalam surat akses terbuka, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1494809/). Rumus dan contoh perhitungan juga dicocokkan dengan halaman likelihood ratios dari Centre for Evidence-Based Medicine (CEBM), University of Oxford, https://www.cebm.ox.ac.uk/resources/ebm-tools/likelihood-ratios.