KoasKitMasukCoba gratis 7 hari

Wells Score (PE)

Wells Score menilai probabilitas klinis Pulmonary Embolism (PE, emboli paru) pada pasien yang dicurigai menderita PE dari tujuh kriteria, sebelum pemeriksaan penunjang dilakukan. Skor total 0 sampai 12,5, dengan skor di bawah 2 berarti probabilitas rendah, 2 sampai 6 sedang, dan di atas 6 tinggi.

Syarat minimalnya adalah tungkai bengkak dan nyeri saat vena dalam ditekan.

Makalah tahun 2000 hanya menyebut imobilisasi atau operasi dalam 4 minggu terakhir. Sebagian kalkulator lain mensyaratkan imobilisasi paling sedikit 3 hari.

Kriteria penilaian

KriteriaPoin
Tanda dan gejala klinis DVT (minimal tungkai bengkak dan nyeri saat vena dalam ditekan)3
Diagnosis alternatif kurang mungkin dibandingkan PE3
Denyut jantung lebih dari 100 per menit1,5
Imobilisasi atau operasi dalam 4 minggu terakhir1,5
Riwayat DVT atau PE sebelumnya1,5
Hemoptisis1
Keganasan (sedang diobati, diobati dalam 6 bulan terakhir, atau paliatif)1
Skor total0 sampai 12,5

Keterangan

  • Wells Score (PE): skor yang menilai probabilitas klinis PE sebelum pemeriksaan penunjang. Skor totalnya berkisar dari 0 sampai 12,5.
  • PE (Pulmonary Embolism): emboli paru, yaitu sumbatan arteri paru oleh bekuan darah.
  • DVT (Deep Vein Thrombosis): trombosis vena dalam, yaitu bekuan darah di vena dalam, paling sering di tungkai.
  • CTPA (Computed Tomography Pulmonary Angiography): CT angiografi paru, pemeriksaan pencitraan untuk memastikan PE.
  • V/Q (Ventilation/Perfusion): sintigrafi ventilasi dan perfusi paru, pemeriksaan pencitraan alternatif untuk PE.
  • PERC (Pulmonary Embolism Rule-out Criteria): kriteria untuk menyingkirkan PE pada pasien dengan probabilitas rendah.

Cara membaca skor

  • Skor di bawah 2 berarti probabilitas rendah. Dalam makalah, PE ditemukan pada 3,6% kelompok ini di set derivasi dan 2,0% di set validasi. Pertimbangkan D-dimer atau kriteria penyingkiran seperti PERC.
  • Skor 2 sampai 6 berarti probabilitas sedang. Dalam makalah, PE ditemukan pada 20,5% kelompok ini di set derivasi dan 18,8% di set validasi. Pertimbangkan D-dimer sensitivitas tinggi atau CTPA. Model dua tingkat juga dipakai. Skor 4 atau kurang berarti "PE tidak mungkin" dan pemeriksaan berikutnya adalah D-dimer sensitivitas tinggi, sedangkan skor di atas 4 berarti "PE mungkin" dan pemeriksaan berikutnya adalah CTPA atau sintigrafi V/Q. Periksa set ambang mana yang dipakai pedomanmu.
  • Skor di atas 6 berarti probabilitas tinggi. Dalam makalah, PE ditemukan pada 66,7% kelompok ini di set derivasi dan 50% di set validasi. Pertimbangkan CTPA. Pemeriksaan D-dimer tidak disarankan. Model dua tingkat juga dipakai. Skor 4 atau kurang berarti "PE tidak mungkin" dan pemeriksaan berikutnya adalah D-dimer sensitivitas tinggi, sedangkan skor di atas 4 berarti "PE mungkin" dan pemeriksaan berikutnya adalah CTPA atau sintigrafi V/Q. Periksa set ambang mana yang dipakai pedomanmu.

Saran pemeriksaan (D-dimer, CTPA, PERC) berasal dari panduan yang lebih baru dan tidak ada di makalah tahun 2000. Poin dan ambang skor berasal dari makalah.

Contoh perhitungan

Sebagai contoh, seorang pasien dengan sesak napas mendadak memiliki denyut jantung 110 per menit, dan dokter menilai diagnosis alternatif kurang mungkin dibandingkan PE. Skornya 4,5, sehingga probabilitas PE tergolong sedang pada model tiga tingkat. Pada model dua tingkat, skor di atas 4 berarti PE mungkin.

Sumber

Wells PS, Anderson DR, Rodger M, Ginsberg JS, Kearon C, Gent M, Turpie AGG, Bormanis J, Weitz J, Chamberlain M, Bowie D, Barnes D, Hirsh J. “Derivation of a simple clinical model to categorize patients probability of pulmonary embolism: increasing the model's utility with the SimpliRED D-dimer.” Thromb Haemost. 2000;83(3):416-420. DOI 10.1055/s-0037-1613830, PMID 10744147. Sumber terbuka untuk penelusuran: MDCalc, "Wells' Criteria for Pulmonary Embolism", https://www.mdcalc.com/calc/115/wells-criteria-pulmonary-embolism; pembanding: WikEM, "Wells criteria", https://wikem.org/wiki/Wells_criteria.