Killip Classification
Killip Classification menilai keparahan gagal jantung dari pemeriksaan fisik pada pasien infark miokard akut. Kelas I berarti tidak ada tanda gagal jantung, kelas II berarti ada ronki, gallop S3, atau tekanan vena jugularis meningkat, kelas III berarti edema paru nyata, dan kelas IV berarti syok kardiogenik, dengan risiko kematian selama perawatan yang makin tinggi pada kelas yang lebih tinggi.
Kriteria penilaian
| Kelas | Temuan klinis |
|---|---|
| I | Tidak ada tanda klinis gagal jantung (tidak ada ronki dan tidak ada gallop S3). |
| II | Ronki di paru, gallop S3, atau tekanan vena jugularis meningkat. |
| III | Edema paru nyata. |
| IV | Syok kardiogenik, yaitu hipotensi dengan tanda vasokonstriksi perifer (oliguria, sianosis, dan diaforesis). |
Keterangan
- Killip Classification: klasifikasi keparahan gagal jantung dari pemeriksaan fisik pada pasien infark miokard akut. Nilainya berkisar dari kelas I sampai kelas IV.
- Ronki (rales): bunyi napas tambahan yang terdengar di paru saat auskultasi.
- Gallop S3 (S3 gallop): bunyi jantung ketiga yang terdengar setelah bunyi jantung kedua.
- Tekanan vena jugularis (jugular venous pressure, JVP): tekanan di vena jugularis yang meningkat bila darah terbendung di sisi kanan jantung.
- Edema paru (pulmonary edema): cairan yang menumpuk di paru. Pada kelas III, edema paru terlihat nyata.
- Syok kardiogenik (cardiogenic shock): hipotensi akibat jantung gagal memompa darah, dengan tanda vasokonstriksi perifer yaitu oliguria (urine sedikit), sianosis (kulit membiru), dan diaforesis (keringat dingin).
Killip Classification dikembangkan untuk menilai keparahan gagal jantung pada infark miokard akut dan menstratifikasi risiko kematian selama perawatan. Angka kematian kohort asli tahun 1967 (6%, 17%, 38%, dan 81% untuk kelas I sampai IV, seperti dikutip de Mello dkk. 2014) berasal dari era sebelum reperfusi. Angka itu bersifat historis dan tidak menggambarkan luaran yang diharapkan saat ini dengan terapi reperfusi modern.
Contoh perhitungan
Sebagai contoh, seorang pasien infark miokard akut tampak sesak, dengan ronki di paru dan bunyi jantung ketiga (gallop S3), tanpa edema paru dan tanpa hipotensi. Pasien ini tergolong Killip II (ronki, gallop S3, atau tekanan vena jugularis meningkat).
Sumber
Killip T 3rd, Kimball JT. “Treatment of myocardial infarction in a coronary care unit. A two year experience with 250 patients.” Am J Cardiol. 1967;20(4):457-464. DOI 10.1016/0002-9149(67)90023-9, PMID 6059183. Definisi kelas diverifikasi terhadap: de Mello BHG, dkk. “Validation of the Killip-Kimball Classification and Late Mortality after Acute Myocardial Infarction.” Arq Bras Cardiol. 2014;103(2):107-117. DOI 10.5935/abc.20140091, PMID 25014060, PMCID PMC4150661.